Senin, 11 Mei 2015

UJI COBA DAPHNIA sp SEBAGAI PENGGANTI ARTEMIA UNTUK PEMBERIAN PAKAN LARVA IKAN PATIN

IBAT Mojokerto sedang uji coba menggunakan pakan Daphnia sp pada larva ikan patin




Sebuah cara alternatif yang dapat ditempuh oleh IBAT Mojokerto dalam menyiasati harga pakan Artemia yang begitu tinggi harganya. Dan perlu diketahui pakan larva ikan patin yang diproduksi pabrik selalu naik harganya dan secara otomatis akan mengurangi keuntungan pada saat panen benih. Sehingga penggunaan pakan alternatif ini diharapkan dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan panen benih ikan patin. oleh sebab itu IBAT Mojokerto melakukan uji coba menggunakan Daphnia sebagai pengganti artemia untuk pemberian pakan larva ikan patin.
Salah satu metode kultur Daphnia sp. yang sering digunakan adalah metodde pemupukan. Pupuk yang digunakana adalah pupuk organik dan anorganik . Pupuk organik dapat berfungsi sebagai sumber makanan secara langsung untuk Daphnia sp. dan organisme makanan ikan lainnya atau diuraikan oleh bakteri menjadi bahan-bahan organik yang merangsang pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton .

         Pupuk organik yang bisa digunakan untuk kultur Daphnia sp adalah kotoran ayam, kotoran sapi, kotoran kambing/domba,bisa juga air budidaya sebagai media dan makanan Daphnia sp,  dll. dalam Casmuji (2002) kotoran ayam dianggap lebih baik dari pada kotoran kandang lainnya.
Tabel 1  Kandungan unsur-unsur hara pada beberapa pupuk kandang
Jenis
Kadar (%)
Nitrogen
Phosphor
Kalium
Bahan organik
Kotoran ayam
4
3.2
1.9
74
Kotoran kambing
2.77
1.78
2.88
60
Kotoran domba
2
1
2.55
60
Kotoran kuda
0.7
0.34
0.52
60
Kotoran sapi
0.7
0.3
0.65
30
       
           Untuk pemupukan dengan kotoran ayam dosis awal yang diberikan yaitu sebanyak 500 g/m3 dan 250 g/m3 setiap hari (Shpet dalam Casmuji, 2002). Sedangkan menurut Suprayitno (1986) dalam Casmuji (2002) untuk mendapatkan media kultur yang baik kotoran ayam kering yang digunakan untuk kultur Daphnia sp. adalah 2-5 g/l air. 
 
Bahan-bahan yang diperlukan :
- Bak beton / kolam budidaya ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 1 meter.
- Pupuk organik, yaitu kotoran ayam  dan pupuk kompos
  (kebutuhan masing- masing 1-1,5 kg/m3 air media).
- Sak beras atau karung plastik  untuk tempat pupuk  , tali  pengikat dan pemberat berupa batu bata,   batu sungai dll
 
Prosedur :
- Isi bak / kolam budidaya dengan air sampai ketinggian minimal 70 – 80 cm, untuk menjaga kestabilan suhu media  dan menghindarkan Daphnia dari pengaruh langsung sinar matahari.
- Siapkan pupuk kandang, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos dengan dosis masing-masing sebanyak 1 kg/m3 untuk budidaya Moina, sedangkan pada budidaya Daphnia kotoran ayam 1,5 kg/m3 dan kompos 1 kg/m3.
- Masukkan pupuk kandang tersebut ke dalam sak beras atau sak tempatnya pakan ikan, ikat dan masukkan ke dalam kolam budidaya.
 - Bisa juga dari air kolam budidaya yang sudah ada air nya diambil sebagai media dan makanan Daphnia
- Satu hari kemudian masukkan bibit Daphnia sebanyak 5 gram/m3 (secukupnya).
 
 
 
 Reproduksi
         Mekanisme reproduksi Daphnia adalah dengan cara parthenogenesis. Satu atau lebih individu muda dirawat dengan menempel pada tubuh induk. Daphnia yang baru menetas harus melakukan pergantian kulit (molting) beberapa kali sebelum tumbuh jadi dewasa sekitar satu pekan setelah menetas. Siklus hidup Daphnia sp. yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas di dalam ruang pengeraman. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm, anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Adapun umur yang dapat dicapainya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor, individu yang baru menetas sudah sama secara anatomi dengan individu dewasa  Proses reproduksi ini akan berlanjut jika kondisi lingkungannya mendukung pertumbuhan. Jika kondisi tidak ideal baru akan dihasilkan individu jantan agar terjadi reproduksi seksual.
          Daphnia jantan lebih kecil ukurannya dibandingkan yang betina. Pada individu jantan terdapat organ tambahan pada bagian abdominal untuk memeluk betina dari belakang dan membuka carapacae betina, kemudian spermateka masuk dan membuahi sel telur. Telur yang telah dibuahi kemudian akan dilindungi lapisan yang bernama ephipium untuk mencegah dari ancaman lingkungan sampai kondisi ideal untuk menetas (Mokoginta, 2003).





diskanla prov. jatimdiskanlut.jatimprov.go.id

1 komentar: