
Sebuah cara alternatif yang dapat ditempuh oleh IBAT Mojokerto dalam menyiasati harga pakan Artemia yang begitu tinggi
harganya. Dan perlu diketahui pakan larva ikan patin yang diproduksi
pabrik selalu naik harganya dan secara otomatis akan mengurangi keuntungan pada
saat panen benih. Sehingga penggunaan pakan alternatif ini diharapkan dapat menekan
biaya produksi dan meningkatkan keuntungan panen benih ikan patin. oleh sebab itu IBAT Mojokerto melakukan uji coba menggunakan Daphnia sebagai pengganti artemia untuk pemberian pakan larva ikan patin.
Salah
satu metode kultur Daphnia sp. yang sering digunakan adalah metodde
pemupukan. Pupuk yang digunakana adalah pupuk organik dan anorganik . Pupuk organik dapat berfungsi sebagai sumber
makanan secara langsung untuk Daphnia sp. dan organisme makanan ikan
lainnya atau diuraikan oleh bakteri menjadi bahan-bahan organik yang merangsang
pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton .
Pupuk
organik yang bisa digunakan untuk kultur Daphnia sp adalah kotoran ayam, kotoran
sapi, kotoran kambing/domba,bisa juga air budidaya sebagai media dan makanan Daphnia sp, dll. dalam Casmuji
(2002) kotoran ayam dianggap lebih baik dari pada kotoran kandang lainnya.
Tabel
1 Kandungan unsur-unsur hara pada beberapa pupuk kandang
|
Jenis
|
Kadar (%)
|
|||
|
Nitrogen
|
Phosphor
|
Kalium
|
Bahan organik
|
|
|
Kotoran ayam
|
4
|
3.2
|
1.9
|
74
|
|
Kotoran kambing
|
2.77
|
1.78
|
2.88
|
60
|
|
Kotoran domba
|
2
|
1
|
2.55
|
60
|
|
Kotoran kuda
|
0.7
|
0.34
|
0.52
|
60
|
|
Kotoran sapi
|
0.7
|
0.3
|
0.65
|
30
|
Untuk
pemupukan dengan kotoran ayam dosis awal yang diberikan yaitu sebanyak 500 g/m3
dan 250 g/m3 setiap hari (Shpet dalam Casmuji, 2002). Sedangkan menurut
Suprayitno (1986) dalam Casmuji (2002) untuk mendapatkan media kultur
yang baik kotoran ayam kering yang digunakan untuk kultur Daphnia sp. adalah
2-5 g/l air.
Bahan-bahan
yang diperlukan :
-
Bak beton / kolam budidaya ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 1 meter.
-
Pupuk organik, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos
(kebutuhan masing- masing
1-1,5 kg/m3 air media).
- Sak beras atau karung plastik untuk tempat pupuk , tali pengikat dan pemberat berupa batu bata, batu sungai dll
Prosedur
:
-
Isi bak / kolam budidaya dengan air sampai ketinggian minimal 70 – 80 cm, untuk
menjaga kestabilan suhu media dan menghindarkan Daphnia dari
pengaruh langsung sinar matahari.
-
Siapkan pupuk kandang, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos dengan dosis
masing-masing sebanyak 1 kg/m3 untuk budidaya Moina, sedangkan pada
budidaya Daphnia kotoran ayam 1,5 kg/m3 dan kompos 1 kg/m3.
-
Masukkan pupuk kandang tersebut ke dalam sak beras atau sak tempatnya pakan ikan, ikat dan masukkan ke
dalam kolam budidaya.
- Bisa juga dari air kolam budidaya yang sudah ada air nya diambil sebagai media dan makanan Daphnia
-
Satu hari kemudian masukkan bibit Daphnia sebanyak 5 gram/m3 (secukupnya).
Reproduksi
Mekanisme reproduksi Daphnia
adalah dengan cara parthenogenesis. Satu atau lebih individu muda dirawat
dengan menempel pada tubuh induk. Daphnia yang baru menetas harus melakukan
pergantian kulit (molting) beberapa kali sebelum tumbuh jadi dewasa
sekitar satu pekan setelah menetas. Siklus hidup Daphnia sp. yaitu
telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur
menetas di dalam ruang pengeraman. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm,
anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp.
mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Adapun umur yang dapat
dicapainya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan
beranak 29 ekor, individu yang baru menetas sudah sama secara anatomi dengan
individu dewasa Proses reproduksi ini akan berlanjut jika kondisi
lingkungannya mendukung pertumbuhan. Jika kondisi tidak ideal baru akan
dihasilkan individu jantan agar terjadi reproduksi seksual.
Daphnia jantan lebih kecil ukurannya
dibandingkan yang betina. Pada individu jantan terdapat organ tambahan pada
bagian abdominal untuk memeluk betina dari belakang dan membuka carapacae
betina, kemudian spermateka masuk dan membuahi sel telur. Telur yang telah
dibuahi kemudian akan dilindungi lapisan yang bernama ephipium untuk mencegah
dari ancaman lingkungan sampai kondisi ideal untuk menetas (Mokoginta, 2003).
diskanla prov. jatimdiskanlut.jatimprov.go.id
lanjutne mas bro :D
BalasHapus