Selasa, 16 Juni 2015

PEMBENIHAN IKAN PATIN DI INSTALASI BUDIDAYA AIR TAWAR MOJOKERTO



PEMBENIHAN IKAN PATIN

( Pangasius pangasius )


PENDAHULUAN



A.          Latar Belakang




         Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pengetahuan masyarakat tentang makanan yang sehat, maka kebutuhan akan bahan pangan dan gizi juga semakin meningkat.

Berbagai cara telah ditempuh untuk meningkatkan produk pangan dan gizi masyarakat. Salah satunya adalah dengan budidaya ikan. Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang gampang didapatkan serta mudah untuk dikembangkan.

         Ikan patin merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang berprospek cerah dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Rasa dagingnya yang enak, lezat, tidak berduri dan gurih mengakibatkan digemari oleh masyarakat. Ikan patin sebagai sumber protein yang cukup tinggi, aman dikonsumsi serta mempunyai kadar kolesterol yang rendah sangat baik untuk menjaga kesehatan.

Di Indonesia ada 2 jenis ikan patin yang sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat , yaitu patin siam dan patin jambal atau lebih dikenal dengan patin daging putih yang berasal dari Jambi. 
        Pada kegiatan pemeliharaan ikan patin, satu hal yang menonjol sekaligus menjadi peluang dari kegiatan tersebut adalah pembenihan. Jumlah kebutuhan benih yang setiap tahun terus meningkat serta teknologi yang bisa kita pahami merupakan alasan yang paling tepat untuk melakukan kegiatan pembenihan.



B.     Pembenihan Ikan Patin

Tahapan proses pembenihan ikan patin dalam kegiataanya meliputi beberapa hal yaitu :

1.      Pemeliharaan Induk

2.      Seleksi Induk

3.      Pemberokan

4.      Penyuntikan

5.      Pembuahan
6.      Penetasan
7.      Perawatan larva
8.      Pendederan


1.  Pemeliharaan Induk


Pemeliharaan / perawatan induk merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan pembenihan ikan

-          Pemeliharaan induk dapat ditempatkan dalam satu kolam  antara jantan dan betina dengan            kepadatan 2-4 kg / m2.

-         Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 1-3 % dari biomas dengan pemberian secara rutin 1-2 kali  / hari.Terutama pada waktu 2 bulan sebelum dipijahkan.

-          Kadar protein pakan berkisar > 30 %.

-     Kolam induk bisa terbuat dari tanah maupun kolam beton yang dilengkapi dengan  saluran  pemasukan dan pengeluaran serta diberi kubangan didekat pintu pengeluaran untuk memudahkan penanganan seleksi induk.

-          Ketinggian air diusahakan lebih dari 1 meter dengan debit air 10-15 liter / menit untuk ukuran kolam 100 – 150 m2.
 


2.      Seleksi Induk

         Induk ikan patin tidak dapat dipijahkan apabila belum matang gonad meskipun disuntik dengan hormon perangsang. Dengan demikian harus dilakukan seleksi induk yang matang gonad. Ikan patin hanya berproduksi dimusim penghujan. Kebutuhan induk jantan untuk 2 ekor betina kalau disuntik dengan hormon ovaprim membutuhkan 4 ekor. Sebelum kita melakukan seleksi induk yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan tempat untuk penampungan induk. Bentuk kolam induk yang aman untuk penampungan induk berbentuk bulat dan  terbuat dari beton atau fibergllas, karena induk patin sering melakukan gerakan yang tidak memperhatikan keadaan didepannya. Air diisi satu sampai dua hari sebelum induk dimasukkan. Bersamaan seleksi induk, dilakukan persiapan penanganan aquarium untuk penetasan. Aquarium dibersihkan terus diisi air 20 - 25 cm dan dipasang aerasi.
                      




Ciri – Ciri induk yang matang gonad



a. Induk Betina

-        Umur lebih dari 2,5 tahun  dengan berat 3-5 kg.

-          Bentuk tubuh normal dan sehat.

-         Dilihat dari bentuk perut telah mengembang ke arah lubang anus.

-       Kalau diraba lunak tapi tidak terlalu lembek

-       Warna kelamin kemerahan dan membesar dengan bentuk relatip bulat

-       Kalau diambil telurnya dengan selang (kateter) warnanya kuning transparan dengan ukuran seragam ( kalau telur yang masih muda berwarna keputihan dan besarnya tidak seragam)

b. Induk Jantan

-          Umur lebih dari  atau minimal 1,5 tahun

-       Alat kelamin nampak menonjol dengan posisi tegak dan berwarna agak kemerahan.

-          Mempunyai bentuk perut relatif ramping tapi tidak lengket

-          Kalau perutnya diurut kearah kelamin maka akan mengeluarkan cairan putih kental (sperma)



3.      Pemberokan

       Induk yang sudah diseleksi diberok ( dipuasakan ) selama satu hari, tujuan dipuasakan untuk mengeluarkan kotoran dalam perut sehingga besarnya perut bukan berisi makanan atau kotoran tapi berisi telur.Untuk mengantisipasi kerusakan induk karena luka, bisa dilakukan pemuasaan induk didalam kolam pemeliharaan selama 2 hari. Sehingga setelah induk diseleksi langsung bisa disuntik.
 




4.      Penyuntikan
       Pada umumnya penyuntikan yang digunakan untuk merangsang kematangan gonad sampai tingkat ovulasi adalah menggunakan ovaprim, karena lebih praktis dan mudah penggunaannnya.
Dosis yang digunakan untuk 1 kg induk adalah 0,5 cc yang dicampur aquabides dengan perbandingan 1 : 1. Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali yaitu 1/3  untuk penyuntikan pertama dan 2/3 untuk penyuntikan kedua sedangkan untuk induk jantan hanya 1/3 dosis yang diberikan bersamaan dengan penyuntikan kedua. Bagian yang disuntik adalah dibelakang sirip pungung dengan kemiringan 450 sedalam kurang lebih 2 cm.
      Jarak waktu penyuntikan pertama dengan yang kedua adalah 8-12 jam. Selanjutnya striping dilakukan kalau induk sudah siap yaitu 5-10 jam setelah penyuntikan kedua.  
Striping induk yang belum matang gonad maupun striping yang terlalu kasar bisa mengakibatkan induk akan mati. Tingkat kematangan gonad sangat berpengaruh terhadap lamanya induk untuk bisa di striping, sehingga perlu dikontrol setiap 1 jam sekali. Waktu striping harus tepat, kalau belum waktunya telur tidak bisa keluar, tapi kalau terlambat, telur akan kemasukan air sehingga tidak bisa terbuahi ( tidak menetas).

INDUK
                         


5.      Pembuahan
         Langkah – langkah setelah induk betina disuntik adalah sebagai berikut : 
·         Setelah induk siap, maka dilakukan striping yaitu mengurut perut induk betina secara hati-hati kearah anus.
·         Telur hasil striping ditaruh didalam mangkok yang kering lalu dicampur dengan sperma induk      jantan dengan cara distriping.
·     Telur dan sperma diaduk dengan bulu ayam selama 1-2 menit , setelah tercampur telur dibagi kemangkok yang lain masing-masing 1-2  sendok makan terus ditambah air bersih secukupnya sambil terus diaduk secara hati – hati (pembilasan telur bisa dilakukan 2 kali). Kemudian telur diendapkan setelah telur mengendap air di buang. Lalu  ditebar kedalam aquarium yang telah dipersiapkan



 
       

·         .Waktu memasukkan kedalam aquarium sebelum telur sampai kedasar, air dalam aquarium diaduk agar telur yang akan menempel didasar bisa merata.
·         Aquarium yang kotor atau berlendir sebelum telur dimasukkan, dasar aquarium supaya digosok terlebih dahulu agar telur bisa menempel merata didasar aquarium dan tidak menggumpal.






6.      Penetasan

Aquarium yang telah terisi telur diberi aerasi dan suhu didalam air berkisar antara 27-320, untuk menaikkan suhu supaya diberi pemanas berupa kompor atau hiter. Larva akan  menetas setelah berumur 20-24 jam kemudian, larva  dipindahkan kedalam aquarium lain yang sudah dipersiapkan sebanyak 1-1,5 sendok makan.


 
7.   Perawatan Larva
Langkah – langkah perawatan larva :
·               Larva yang telah menetas dipeliharan didalam aquarium dengan ukuran     1 x 0,5 x 0,3 m3 dengan ketinggian air 25 cm.
·               Setiap aquarium diisi  ± 2.000 – 3.000 ekor larva.
·               Setelah makanan cadangan larva habis yaitu berumur 2 hari larva diberi pakan mauplius artemia sebanyak ½ - 1 gelas yang diberikan setiap           2-3 jam sekali. Bisa juga dikasih dahpnia sp secukupnya karena dahpnia bertahan lama di air tawar dari pada artemia.
·               Pemberian cacing bisa dilatih setelah ikan berumur 6-7 hari secara bertahap untuk mengurangi atau menggantikan Artemia.
·               Pemberian pakan diberikan secara adlibitum yaitu sesuai kemampuan ikan sampai kenyang.
·               Suhu dibawah 270c sangat berpengaruh terhadap nafsu makan larva. Suhu yang diperlukan berkisar antara 280-310C.
·               Untuk membersihkan kotoran dilakukan penyiponan setiap hari.
·               Pemeliharaan larva di dalam aquarium harus memperhatikan kwalitas air, biasanya air diganti  setiap hari mulai larva berumur 5 hari sebanyak 30%-90% sampai larva turun dari aquarium yaitu berumur 11-13 hari. 

 





8.            Pendederan


         A. Pendederan di Bak Beton

·               Tinggi bak 1 meter, sedang panjang dan lebarnya bervariasi.

·               Bersihkan dengan sikat dan dikeringkan

·               Isi air setinggi 50 - 80 cm dan diamkan selama 2 – 3 hari.

·               Larva siap ditebar dengan kepadatan 2.000- 4.000 ekor/m2.

·               Pakan berupa cacing tubifex atau pakan udang secukupnya.

·               Penggantian air sebanyak 30 – 100 % tiap 3 – 6 hari sekali atau secara sirkulasi       ( melihat keadaan ).

·               Setelah 2 – 3 minggu, benih dipanen dengan ukuran 2 – 3 cm.


B. Pendederan di Kolam Tanah
·               Tinggi kolam 1,2 M sedang panjang dan lebarnya bervariasi
·             Persiapan kolam pendederan perlu dilakukan kegiatannya meliputi :
-          Pengeringan kolam selama 5 hari.
-          Perbaikan pematang dan kemalir.
-          Diberi kapur tohor dengan dosis 50 – 100 gr/ m2
-          Diisi air setinggi 50 – 100 cm selama 5 hari.
·          Benih siap dimasukkan dengan padat tebar 500 –  800 ekor/ m2.
·        Pakan berupa cacing tubifex atau pakan udang dengan pemberian 3 – 6 X.
·         Pergantian air dengan sirkulasi berkala.
·        Setelah 2 – 3 minggu benih siap dipanen dengan ukuran 3 – 6 cm.
·        Sr ( kelangsungan hidup ) 80 – 90 %.

       C.          Pembuatan Nauplius Artemia
-        Siapkan wadah dari bak plastik maupun galon aqua yang diisi air ¾ bagian.

-        Kemudian dimasukkan garam krosok ( non yodium ) sebanyak 900 gram ( 8 genggam ) untuk 18 liter air.

-     Wadah diberi aerasi untuk menambah oksigen dan meratakan telur.

-      Masukkan telur artemia sebanyak 10 – 12 sendok makan.

-      Pada suhu 28 - 300C telur akan menetas selama 24 jam.

-     Setelah menetas dipindah ke galon aqua dengan posisi yang kecil dibagian bawah tanpa diberi aerasi selama ± 5 menit supaya cangkang muncul dipermukaan dan tetasan didasar galon. Kemudian tetasan disedot dengan selang sampai habis dan cangkangnya tertinggal.

-     Untuk mempertahankan kehidupan, tetasan diencerkan dengan air bersih   2 – 3 X jumlah air tetasan dan nauplius artemia siap untuk diberikan pada larva.
-    Survival rate ( kelangsungan hidup ) 80 – 90 %.







Senin, 15 Juni 2015

INSTALASI BUDIDAYA AIR TAWAR MOJOKERTO PEMBUATAN PAKAN MANDIRI




Pada kegiatan budidaya di bidang perikanan meliputi beberapa sub sistem yaitu pembenihan , pendederan dan pembesaran. Dalam hal budidaya pengunaan pakan buatan atau mandiri sangat diperlukan dikarenakan dapat menambah keuntungan didalam kegiatan pembudidaya. Bahan pembuatan pakan mandiri dapat berasal antara lain dari Tepung ikan, bekatul, polar dan jagung dan lain - lain.

Ada banyak formula atau racikan yang digunakan untuk proses pembuatan pakan mandiri, yang telah dilakukan di Instalasi Budidaya Air Tawar Mojokerto menggunakan limbah kepala ikan tengiri , pollar , bekatul, tepung jagung dimana dalam proses pembuatannya adalah bahan tersebut diaduk rata dicampur dengan air secukupnya, setelah bahan tercampur rata tinggal proses pembuatan dengan menggunakan mesin cetak yang telah dimodifikasi kemudian dijemur hingga kering ,tahan hingga ± 3 hari. Dalam 1 bulan IBAT Mojokerto mampu memproduksi sekitar ± 200 kg dan pakan tersebut digunakan sendiri sebagai pakan untuk kegiatan budidaya baik itu lele maupun patin.

Cara Membuat Pakan Mandiri adalah sebuah cara alternatif yang dapat ditempuh oleh petani ikan dalam menyiasati harga pakan produksi pabrik yang begitu tinggi harganya. Dan perlu diketahui pakan ikan lele dan ikan patin yang diproduksi pabrik selalu naik harganya dan secara otomatis akan mengurangi keuntungan pada saat panen. Sehingga penggunaan pakan alternatif ini diharapkan dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan panen ikan lele dan ikan patin.


Gambar : proses pembuatan pakan mandiri  (IBAT Mojokjerto)

Cara Membuat Pakan Ikan Lele
 
Formula I
Bahan
Komposisi (%)
Tepung ikan
33
polar
67

   Jadi kadar proteninnya 30,6% dari hasil Labolatorium di Unit Layanan Pengujian Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya, Biaya pakan 1 Kg Rp. 5.050



Formula II
Bahan
Komposisi (%)
Tepung ikan
33
Tepung Jagung
17
Dedak/bekatul
50

   Jadi kadar proteninnya 26,7% dari hasil Labolatorium di Unit  Layanan Pengujian Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya, Biaya pakan 1 Kg Rp. 4.800




 Demikian posting mengenai cara membuat pakan mandiri di Intasali Budidaya Air Tawar Mojokerto. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi peternak dan pembaca yang sedang mencari referensi alternatif pada cara membuat pakan mandiri. Akhir kata kami sampaikan semoga sukses dalam budidaya lele.